"Dipecat Karena Tidak Kreatif": Bagaimana Walt Disney Membungkam Dunia dengan Imajinasinya
Bayangkan sebuah dunia tanpa Mickey Mouse. Bayangkan masa kecil Anda tanpa Cinderella, Lion King, atau Aladdin. Bayangkan dunia tanpa Disneyland, tempat yang disebut-sebut sebagai "Tempat Paling Bahagia di Bumi".
Sulit, bukan?
Nama Disney hari ini identik dengan sihir, imajinasi tanpa batas, dan mimpi yang menjadi kenyataan. Kekaisaran bisnisnya bernilai miliaran dolar. Namun, tahukah Anda bahwa pria di balik semua keajaiban ini pernah divonis sebagai orang yang "tidak punya imajinasi"?
Ya, Anda tidak salah baca. Walter Elias Disney, sang maestro mimpi, pernah dipecat dari pekerjaan pertamanya di sebuah koran lokal, The Kansas City Star, karena editornya berkata: "Kamu tidak punya ide bagus dan tidak punya imajinasi."
Jika hari ini Anda merasa karya Anda tidak dihargai, atau ide-ide Anda ditertawakan, duduklah sejenak. Kisah Walt Disney adalah teman terbaik Anda hari ini. Ini adalah kisah tentang bagaimana balas dendam terbaik bukanlah kemarahan, melainkan sebuah karya maha dahsyat.
Babak 1: Seniman Lapar yang Memakan Makanan Anjing
Walt muda bukanlah orang kaya. Masa kecilnya keras, dengan ayah yang disiplin dan sering menghukumnya secara fisik. Menggambar adalah satu-satunya pelariannya dari realitas yang pahit.
Setelah dipecat dari koran karena dianggap "kurang kreatif", Walt tidak berhenti. Ia mendirikan studio animasi pertamanya bernama Laugh-O-Gram di Kansas City. Ia bersemangat, ia punya visi, tapi ia tidak punya uang.
Kondisi keuangannya sangat buruk hingga ia tidak sanggup membayar sewa kamar kos. Ia tidur di kantornya yang dingin. Ada cerita pilu di mana ia bertahan hidup hanya dengan memakan kacang kalengan dingin dan roti kering. Bahkan, rumor sejarah mengatakan ia kadang terpaksa memakan makanan anjing karena hanya itu yang terjangkau.
Dan tebak apa yang terjadi dengan studio pertamanya itu? Bangkrut. Gulung tikar total.
Di usia 22 tahun, Walt Disney telah merasakan pahitnya pemecatan dan kebangkrutan. Ia "gagal" menurut standar siapa pun. Dengan hati hancur, ia mengepak koper kardus murahan yang hanya berisi satu kemeja, dua celana dalam, dan satu celana panjang, lalu membeli tiket kereta satu arah ke Hollywood.
Ia pergi bukan untuk menjadi animator, tapi karena ia ingin jadi sutradara film aksi live-action. Mengapa? Karena ia berpikir ia sudah gagal di dunia animasi.
Babak 2: Pengkhianatan Terbesar dan Perjalanan Kereta Neraka
Di Hollywood, nasib baik sempat menyapanya. Bersama kakaknya, Roy, ia mendirikan Disney Brothers Studio. Mereka menciptakan karakter sukses bernama Oswald the Lucky Rabbit (Oswald si Kelinci Beruntung).
Oswald meledak di pasaran. Walt merasa ia akhirnya berhasil. Ia pergi ke New York untuk menegosiasikan kenaikan biaya produksi dengan distributornya, Charles Mintz. Walt datang dengan penuh percaya diri, merasa dirinya adalah aset berharga.
Tapi yang terjadi adalah mimpi buruk.
Mintz tidak mau menaikkan bayaran Walt. Sebaliknya, ia memberitahu Walt sebuah fakta yang mengerikan: Mintz diam-diam telah membajak hampir seluruh animator terbaik Walt untuk bekerja padanya. Dan yang paling menyakitkan, dalam kontrak tertulis (yang tidak dibaca Walt dengan teliti), hak cipta Oswald ternyata milik distributor, bukan milik Walt.
Mintz berkata dengan dingin, "Terima tawaran harga murah ini, atau aku akan menghancurkanmu. Aku sudah punya stafmu, dan aku punya karaktermu."
Walt menolak diperas. Ia memilih kehilangan segalanya daripada bekerja di bawah ancaman. Ia kehilangan Oswald, ia kehilangan timnya, dan ia kehilangan sumber pendapatannya.
Perjalanan pulang dari New York ke California menggunakan kereta api adalah momen paling kelam dalam hidupnya. Bayangkan perasaannya. Dikhianati oleh mitra bisnis, ditusuk dari belakang oleh karyawan sendiri, dan pulang tanpa membawa apa-apa untuk diceritakan pada kakaknya, Roy.
Ia hancur lebur. Tapi di tengah guncangan gerbong kereta itulah, dalam keputusasaan yang sunyi, Walt mengambil buku sketsanya. Ia harus punya karakter baru. Sesuatu yang menjadi miliknya sepenuhnya.
Ia menggambar seekor tikus. Telinganya bulat besar, hidungnya mancung.
"Aku akan menamainya Mortimer," gumam Walt.
Istrinya, Lillian, yang ikut dalam perjalanan itu menggeleng. "Mortimer terdengar terlalu sombong. Bagaimana kalau Mickey?"
Dan di kereta itulah, dari puing-puing kegagalan dan pengkhianatan, Mickey Mouse lahir. Jika Walt tidak dikhianati dan kehilangan Oswald, Mickey Mouse tidak akan pernah ada.
Babak 3: "Kebodohan Disney" (Disney’s Folly)
Mickey Mouse meledak. Film Steamboat Willie menjadi sensasi karena menjadi kartun pertama yang menggunakan suara tersinkronisasi. Walt Disney kembali ke puncak.
Kebanyakan orang akan berhenti di sana. Nikmati uangnya, buat ratusan episode Mickey, dan hidup nyaman. Tapi Walt bukan orang "kebanyakan".
Di tahun 1934, Walt punya ide gila. Ia ingin membuat film animasi panjang berdurasi penuh (seperti film bioskop) yang beraneka warna dan musikal. Judulnya: Snow White and the Seven Dwarfs.
Seluruh industri hiburan mentertawakannya.
"Siapa yang mau duduk di bioskop selama 90 menit hanya untuk melihat gambar kartun kurcaci?"
"Itu akan menyakitkan mata penonton!"
Proyek itu dijuluki oleh media dan kritikus sebagai "Disney’s Folly" atau "Kebodohan Disney". Bahkan istri dan kakaknya memohon agar ia menghentikan proyek itu karena biayanya membengkak dari $250.000 menjadi $1,5 juta (jumlah yang astronomis saat itu).
Walt tidak peduli. Ia menggadaikan rumahnya. Ia mempertaruhkan seluruh masa depan studionya. Jika Snow White gagal, Disney tamat.
Malam pemutaran perdana tiba. Para skeptis, kritikus, dan selebriti Hollywood hadir, siap untuk mencemooh. Namun, saat film berakhir dan lampu menyala, sesuatu yang ajaib terjadi.
Tidak ada tawa ejekan. Yang ada adalah isak tangis haru. Orang-orang dewasa, para kritikus yang sinis itu, menangis tersedu-sedu melihat "kematian" Snow White. Mereka memberikan standing ovation.
"Kebodohan Disney" itu kemudian menjadi film paling sukses di zamannya dan menjadi pondasi keuangan yang membangun studio raksasa Disney seperti yang kita kenal sekarang.
Babak 4: Tempat Paling Bahagia di Bumi
Visi Walt tidak berhenti di layar lebar. Ia sering membawa dua putrinya bermain di taman hiburan di akhir pekan. Saat itu, taman hiburan biasanya kotor, tidak aman, dan orang tua hanya duduk bosan di bangku taman menunggu anak-anak bermain.
Walt duduk di bangku taman yang kotor itu dan berpikir: "Seharusnya ada tempat di mana orang tua dan anak-anak bisa bersenang-senang bersama. Tempat yang bersih, ajaib, dan aman."
Ide tentang Disneyland lahir.
Lagi-lagi, para ahli berkata itu mustahil. "Taman hiburan adalah bisnis yang kotor, Walt. Itu sarang preman. Kamu akan bangkrut."
Ia butuh dana besar. Bank-bank menolaknya. "Mickey Mouse sebagai jaminan? Jangan bercanda," kata para bankir. Walt terpaksa mencari dana lewat televisi (ABC) dan bahkan menjual asuransi jiwa pribadinya demi mewujudkan mimpi itu.
Tahun 1955, Disneyland dibuka. Hari pembukaannya kacau balau (aspal meleleh, air mancur macet), tapi visinya tentang "dunia lain" yang magis terbukti benar. Disneyland mengubah konsep liburan keluarga di seluruh dunia selamanya.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Walt Disney meninggal pada tahun 1966 karena kanker paru-paru, sebelum ia bisa melihat peresmian Disney World di Florida (EPCOT). Saat Disney World akhirnya dibuka lima tahun setelah kematiannya, seseorang berkata kepada Mike Vance (Direktur Kreatif Disney saat itu), "Sayang sekali Walt tidak ada di sini untuk melihat ini."
Vance menjawab dengan kalimat yang sangat indah:
"Kamu salah. Walt sudah melihatnya lebih dulu. Itulah sebabnya tempat ini ada di sini."
Pelajaran terbesar dari Walt Disney bukanlah tentang cara menggambar kartun. Pelajarannya adalah tentang kekebalan terhadap opini orang lain.
Ketika editor koran memecatnya karena "kurang imajinasi", Walt tidak percaya.
Ketika Mintz mencuri Oswald, Walt tidak berhenti berkarya.
Ketika dunia menyebut Snow White sebagai "Kebodohan Disney", Walt menutup telinganya.
Seringkali, satu-satunya orang yang perlu percaya pada mimpi Anda adalah diri Anda sendiri.
Mungkin saat ini Anda sedang berada di "kereta api" Anda sendiri—baru saja dipecat, ditipu rekan bisnis, atau gagal total. Rasanya sakit. Rasanya sepi.
Tapi ingatlah, di momen tergelap di atas kereta itulah Walt Disney menemukan Mickey Mouse. Jangan-jangan, kegagalan besar yang sedang Anda alami hari ini adalah cara semesta memaksa Anda untuk menemukan "Mickey Mouse" versi Anda sendiri.
Seperti yang selalu dikatakan Walt:
"Kami tidak melihat ke belakang terlalu lama. Kami terus bergerak maju, membuka pintu-pintu baru, dan melakukan hal-hal baru, karena kami penasaran... dan rasa penasaran terus memimpin kami ke jalan yang baru."
Jadi, hapus air matamu. Ambil pensilmu. Mulailah menggambar lagi.
Poin Penting untuk Anda (Key Takeaways):
Revisi Definisi Gagal: Dipecat atau bangkrut bukan akhir identitas Anda. Itu hanya akhir dari satu babak.
Visi Mendahului Realita: Anda harus bisa "melihat" kesuksesan itu di kepala Anda sebelum orang lain bisa melihatnya dengan mata mereka.
Inovasi dari Keterbatasan: Mickey Mouse lahir karena Walt kehilangan hak atas Oswald. Kadang, kehilangan adalah pemicu kreativitas terbesar.
Resiko Terukur: Walt berani mempertaruhkan segalanya (rumah, asuransi) karena ia percaya pada kualitas produknya (Snow White & Disneyland).

0 Response to ""Dipecat Karena Tidak Kreatif": Bagaimana Walt Disney Membungkam Dunia dengan Imajinasinya"
Posting Komentar