Ketika Dunia Berkata "Tidak": Kisah Jack Ma, Pria yang Ditolak KFC Tapi Membeli Masa Depan
Pernahkah Anda merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia? Pernahkah Anda merasa bahwa semesta seolah berkonspirasi untuk menggagalkan setiap langkah yang Anda ambil? Jika Anda sedang menatap layar ini dengan perasaan putus asa karena baru saja ditolak kerja, gagal ujian, atau bisnis Anda hancur, saya punya sebuah cerita untuk Anda.
Ini bukan cerita tentang miliarder yang duduk di atas tumpukan uang. Ini adalah cerita tentang seorang pria kurus, bertubuh kecil, yang wajahnya pernah dihina, otaknya dianggap lamban, dan lamaran kerjanya dibuang ke tempat sampah oleh manajer restoran ayam goreng.
Namanya Ma Yun, atau dunia kini mengenalnya sebagai Jack Ma.
Sebelum ia mendirikan Alibaba dan mengubah wajah perdagangan dunia, Jack Ma adalah definisi nyata dari kata "pecundang" dalam standar masyarakat saat itu. Kisahnya adalah bukti paling brutal sekaligus paling indah bahwa nasib buruk tidak abadi.
Babak 1: Si Bodoh yang Keras Kepala
Lahir di Hangzhou, Tiongkok, pada tahun 1964, Ma Yun tidak lahir dengan sendok emas. Ia lahir di era Revolusi Kebudayaan, di mana kehidupan sangat sulit. Namun, kesulitan terbesar Ma Yun saat itu bukanlah uang, melainkan sekolah.
Mari bicara jujur, kita sering mengasosiasikan CEO teknologi dengan jenius matematika atau prodigy koding. Jack Ma? Sama sekali tidak.
Ia gagal ujian masuk sekolah dasar dua kali.
Ia gagal ujian masuk sekolah menengah tiga kali.
Dan yang paling menyakitkan, ia gagal ujian masuk universitas (Gaokao) sebanyak dua kali.
Nilai matematikanya saat ujian pertama? 1 dari total 120 poin. Anda tidak salah baca. Satu. Kebanyakan orang akan menyerah dan berkata, "Oke, mungkin akademis bukan jalan saya." Tapi Ma Yun punya jenis keras kepala yang unik. Ia belajar mati-matian, menghafal rumus hingga kepalanya sakit, dan akhirnya lulus pada percobaan ketiga. Itu pun masuk ke institut keguruan yang dianggap kampus "kasta terendah" di kotanya.
Apakah penderitaannya selesai setelah lulus kuliah? Oh, justru baru dimulai.
Babak 2: Tragedi di Kedai Ayam Goreng
Inilah anekdot paling legendaris dalam sejarah kewirausahaan modern.
Setelah lulus, Jack Ma melamar pekerjaan di mana-mana. Ia bukan pemilih. Ia melamar menjadi polisi, tetapi ditolak mentah-mentah dengan alasan sederhana: "Kamu tidak cukup bagus."
Lalu, KFC (Kentucky Fried Chicken) pertama kali membuka gerainya di kota Hangzhou. Antusiasme warga meledak. Sebanyak 24 orang melamar untuk bekerja di sana, termasuk Jack Ma.
Hasilnya?
23 orang diterima.
1 orang ditolak.
Satu-satunya orang yang ditolak itu adalah Jack Ma. Manajer saat itu melihat postur tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang (menurut standar mereka) kurang menarik, lalu memutuskan ia tidak pantas bahkan untuk sekadar menyajikan ayam goreng.
Bayangkan betapa hancurnya harga diri seseorang saat itu. Ditolak menjadi polisi mungkin bisa dimaklumi, tapi ditolak menjadi pelayan restoran cepat saji saat semua pelamar lain diterima? Itu adalah penghinaan level tertinggi.
Belum cukup di situ, ia juga memiliki mimpi tinggi untuk kuliah di Harvard. Ia mengirim surat lamaran ke Harvard University. Bukan sekali, bukan dua kali, tapi 10 kali.
10 kali ia mengirim amplop, 10 kali pula ia menerima surat penolakan. Dunia seolah berteriak di telinganya: "Berhentilah bermimpi, Ma Yun!"
Babak 3: "Orang Gila" dan Kotak Ajaib Bernama Internet
Titik balik hidupnya terjadi pada tahun 1995 saat ia pergi ke Amerika Serikat sebagai penerjemah. Di sana, ia diperkenalkan dengan benda asing bernama "Internet".
Temannya menyuruhnya mencari sesuatu di komputer. Dengan tangan gemetar—karena takut merusak benda mahal itu—Jack mengetik kata "Beer" (Bir). Keluar hasil pencarian bir Amerika, bir Jerman, bir Jepang. Tapi tidak ada bir dari Tiongkok.
Ia lalu mengetik "China". Hasilnya: No data found.
Detik itu juga, sebuah visi meledak di kepalanya. Tiongkok harus ada di internet. Ia pulang ke negaranya dengan semangat berapi-api, meminjam uang dari kerabat, dan mendirikan perusahaan internet pertamanya, "China Pages".
Apakah ia langsung sukses? Tentu tidak.
Koneksi internet saat itu sangat lambat. Membuka satu halaman web butuh waktu setengah halaman koran selesai dibaca. Teman-temannya datang ke rumahnya, menunggu berjam-jam hanya untuk melihat satu foto muncul di layar.
Mereka berkata, "Jack, ini bohong. Ini tidak nyata. Kamu penipu."
Bisnis itu gagal. Ia bangkrut lagi. Ia dianggap gila oleh banyak orang. "Jack si Gila" (Crazy Jack), begitu julukannya.
Babak 4: Apartemen Sempit dan Mimpi Raksasa
Tahun 1999, di apartemen kecilnya yang lembab di Hangzhou, Jack mengumpulkan 17 temannya. Ia tidak punya uang, tidak punya teknologi canggih, dan tidak punya koneksi ke pemerintah ("Guanxi") yang saat itu sangat penting di Tiongkok.
Ia berdiri di tengah ruangan dan berpidato dengan bahasa Inggris yang ia pelajari secara otodidak dari turis asing.
"Kita akan membangun perusahaan e-commerce global," katanya. "Lawan kita bukan situs web di Tiongkok, tapi raksasa di Silicon Valley."
Jika Anda ada di ruangan itu, Anda mungkin akan tertawa. Sekumpulan orang biasa, dipimpin oleh mantan guru bahasa Inggris yang tidak bisa menulis satu baris kode pun (coding), ingin melawan dunia?
Mereka menamai perusahaan itu Alibaba. Terinspirasi dari kisah "Ali Baba dan 40 Penyamun" dengan mantra "Open Sesame"—membuka pintu kekayaan bagi usaha kecil.
Tiga tahun pertama Alibaba adalah neraka. Mereka tidak menghasilkan pendapatan satu sen pun. Jack Ma harus memutar otak agar perusahaannya tidak mati kelaparan. Di satu titik, ketika mereka kehabisan uang, pelayan restoran tempat mereka makan menolak dibayar karena ia tahu betapa kerasnya perjuangan tim Alibaba. "Bayar saja nanti kalau kalian sudah sukses," kata pelayan itu. Momen kemanusiaan kecil inilah yang membuat Jack terus maju.
Babak 5: Perang Melawan Buaya di Sungai Yangtze
Ujian terbesar datang ketika raksasa lelang dunia, eBay, masuk ke Tiongkok. eBay adalah "hiu di lautan", memiliki dana tak terbatas dan teknologi superior. Alibaba hanyalah "buaya di sungai Yangtze".
Logika bisnis mengatakan Alibaba akan mati. eBay menguasai 90% pangsa pasar.
Tapi Jack Ma melakukan strategi gerilya yang brilian dan berisiko tinggi. Ia meluncurkan Taobao (platform belanja milik Alibaba) dengan biaya gratis selama tiga tahun untuk penjual. Sementara eBay membebankan biaya transaksi.
Staf keuangannya panik. "Jack, bagaimana kita bisa untung kalau gratis?"
Jack menjawab, "Lupakan uang. Dapatkan hati pengguna dulu."
Strategi "bakar uang" demi pengguna ini berhasil. Penjual berbondong-bondong pindah dari eBay ke Taobao. Dalam beberapa tahun, eBay kalah telak dan akhirnya memutuskan mundur dari pasar Tiongkok. Si Buaya berhasil mengusir Sang Hiu.
Apa yang Membuat Jack Ma Berbeda?
Jika kita membedah isi kepala Jack Ma, kita tidak akan menemukan kepintaran akademis (IQ) yang luar biasa. Ia sendiri sering mengakui bahwa ia tidak pintar teknologi. Ia bahkan bercanda bahwa satu-satunya hal yang bisa ia lakukan di komputer adalah mengirim email dan browsing.
Lalu apa rahasianya?
LQ (Love Quotient/Q of Love): Jack Ma sering berkata, "Untuk sukses kamu butuh EQ (kecerdasan emosi), untuk tidak kalah kamu butuh IQ, tapi untuk dihormati kamu butuh LQ." Ia membangun bisnis bukan sekadar mengejar profit, tapi untuk membantu orang kecil ("shrimp") agar bisa berdagang ke seluruh dunia. Empati inilah yang membuatnya dicintai.
Ketahanan Terhadap Penolakan: Ditolak 30 perusahaan dan 10 kali oleh Harvard membuat kulitnya tebal. Ia tidak lagi takut pada kata "Tidak". Baginya, penolakan adalah sarapan pagi.
Visi Jangka Panjang: Ketika orang lain melihat internet sebagai tempat main game atau baca berita, ia melihatnya sebagai infrastruktur masa depan. Ia rela rugi bertahun-tahun demi visi itu.
Pesan untuk Anda yang Sedang "Gagal"
Hari ini, Alibaba adalah raksasa yang transaksinya per hari bisa melebihi gabungan Amazon dan eBay. Jack Ma adalah salah satu orang terkaya di muka bumi.
Tapi, tolong jangan ingat Jack Ma yang berdiri di panggung Wall Street saat IPO.
Ingatlah Jack Ma yang berdiri dalam antrean pelamar KFC. Ingatlah perasaannya saat ia menjadi satu-satunya orang yang disuruh pulang. Ingatlah betapa perihnya ia belajar matematika tapi tetap dapat nilai satu.
Jika hari ini Anda merasa bodoh, ingatlah nilai matematika Jack Ma.
Jika hari ini lamaran kerja Anda ditolak, ingatlah 24 pelamar KFC itu.
Jika ide bisnis Anda ditertawakan teman, ingatlah "Jack si Gila".
Kisah Jack Ma mengajarkan kita satu hukum alam yang sederhana namun kuat:
Masa lalumu tidak mendefinisikan masa depanmu.
Satu-satunya yang bisa membuatmu gagal total adalah jika kamu berhenti mencoba. Seperti yang sering ia katakan:
"Hari ini kejam. Besok lebih kejam lagi. Tapi lusa akan indah. Sayangnya, kebanyakan orang mati besok malam."
Jangan "mati" besok malam. Bertahanlah. Karena mungkin saja, penolakan yang baru saja Anda terima adalah cara Tuhan membelokkan jalan Anda menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi pelayan ayam goreng.
Teruslah berjalan.

0 Response to "Ketika Dunia Berkata "Tidak": Kisah Jack Ma, Pria yang Ditolak KFC Tapi Membeli Masa Depan"
Posting Komentar